Photo by : Freepik/Jcomp
Sekarang kamu mungkin lagi berjuang keras mempertahankan sesuatu, atau mungkin lagi capek banget berusaha tapi hasilnya belum juga sesuai harapan. Lagi di fase ini, kah, kalian?
Sejujurnya, aku seringkali berada di fase ini. Pernah nggak, sih, kalian ngerasa, kita udah kasih segalanya, udah usaha semaksimal mungkin, udah sabar, udah berkorban, tapi rasanya tetap aja ada jarak? Atau, mungkin kita yang terlalu keras memegang sesuatu sampai tangan kita sendiri yang sakit?
Hari ini aku pengen ngobrol pelan-pelan tentang satu hal yang berat banget buat dilakukan, tapi ternyata jadi obat paling ampuh buat hati: Melepaskan.
Banyak orang pikir melepaskan itu artinya kalah, artinya nyerah, artinya kita nggak sayang lagi. Tapi, aku belajar satu hal besar: Melepaskan itu bukan menyerah, tapi bentuk kecerdasan hati buat mengerti bahwa ada hal di dunia ini yang memang nggak bisa dipaksa.
Kenapa Kita Seringkali Terlalu Memaksa?
Aku ngerti banget rasanya. Rasa takut kehilangan, rasa nggak rela, atau rasa percaya kalau "Kalau aku usaha lebih keras lagi, pasti dia/ini bakal berubah."
Kita memaksa orang lain buat mengerti kita, memaksa keadaan buat sesuai keinginan, memaksa hubungan buat berjalan mulus padahal sudah banyak duri. Padahal, ya, kayak bunga, kan? Kalau dipaksa mekar sebelum waktunya, nanti malah layu dan rusak.
Sama kayak hidup. Kalau terlalu dipaksa, yang ada kita sendiri yang capek, stres, dan lupa cara bagaimana bahagia. Kita sibuk memperbaiki yang rusak, sampai lupa kalau mungkin memang sudah waktunya buat berdamai dan pergi.
Melepaskan itu Tanda Kamu Dewasa dan Kuat
Percaya, deh, orang yang berani melepaskan itu bukan orang lemah. Justru dia orang yang paling kuat, karena dia berani mengakui bahwa: "Aku sudah melakukan yang terbaik, dan sekarang aku menghargai diriku sendiri cukup untuk tidak memaksakan apa-apa lagi."
Melepaskan bukan berarti kamu gagal mencinta. Melepaskan juga bukan berarti mimpi kamu hancur. Tapi, itu artinya kamu sadar, ada jalan lain yang lebih baik, atau ada orang lain yang lebih tepat, atau ada waktu yang lebih pas.
Tuhan atau semesta itu punya cara sendiri, kok, buat ngeatur semuanya. Kadang Dia ngasih kita rintangan atau perpisahan, bukan buat menyakiti, tapi buat mindahin kita ke tempat yang jauh lebih layak buat kita.
Cara Melatih Hati buat Ikhlas & Melepaskan
Proses melepaskan itu nggak bisa instan. Pasti ada nangisnya, pasti ada rindunya. Tapi kita bisa latih pelan-pelan:
1. Berhenti Mencari Alasan
Berhenti nanya "kenapa kok begini?", "kenapa kok begitu?". Terima saja bahwa ini memang jalannya. Terima bahwa tidak semua hal butuh penjelasan.
2. Fokus Balik ke Diri Sendiri
Waktu dan energi yang dulu dipake buat mikirin orang lain atau masalah itu, sekarang dialihkan buat healing dan upgrade diri sendiri.
Kamu bisa mulai belajar hal baru buat mengalihkan pikiran lewat kursus gratis ini lho:
- Coursera - Understanding Emotions: Belajar gimana cara ngerti dan mengelola perasaan sendiri.
- Google Digital Garage: Sibukin diri belajar skill baru, biar pikiran lebih positif dan masa depan makin cerah.
- Khan Academy - Personal Growth: Banyak materi yang bikin pola pikir kita makin luas dan dewasa.
3. Ingat, Kamu Berharga
Kamu nggak perlu memohon perhatian atau kasih sayang sama siapa pun. Kalau itu buat kamu, pasti akan datang dengan sendirinya tanpa kamu pinta. Kalau nggak, berarti itu bukan buat kamu, dan yang terbaik sedang diupayakan buat kamu.
Kalau hari ini kamu lagi berat banget rasanya, kalau kamu lagi bingung harus bertahan atau pergi, coba tanya ke hati kecil kamu: "Aku bahagia nggak, sih, selama ini?"
Kalau jawabannya seringnya sakit, seringnya lelah, mungkin memang waktunya buat melepaskan. Bukan karena kamu nggak mau, tapi karena kamu tahu kamu pantas dapat yang lebih baik, dan kamu tahu cara menghargai diri sendiri.
Peluk jauh buat kamu yang lagi berjuang merelakan sesuatu. Kamu hebat, kamu kuat, dan semuanya bakal baik-baik saja pada waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar